Program Besar di FKIP Unlam

Sejak bulan Agustus 2008, FKIP Unlam mengadakan sejumlah rapat besar. Pertemuan besar pertama adalah rapat kerja fakultas. Dalam rapat kerja itu, memang dibicarakan hal-hal yang ideal. Kalau hal-hal ideal itu bisa diimplementasikan dalam kegiatan nyata di lingkungan fakultas, pastilah fakultas itu akan menjadi fakultas dengan atmosfer akademik yang luar biasa tingginya. Dosen disiplin; pemanfaatan IT menggairahkan; KBM bagus; dosen-mahasiswa betah di kampus. Gagasan-gagasan ideal yang muncul dan dijadikan kesepakatan, tampaknya, belum menyentuh pelaksanaan KBM secara ideal. Buktinya, KBM masih saja terganggu oleh bisingnya suara kendaraan. Ruang kuliah masih menjadi rebutan. Dan sebagainya.

Seringkali, gagasan-gagasan ideal sulit diimplementasikan. Sebab, banyak hal mempengaruhinya. Salah satunya adalah ketersediaan dana. Gagasan pemanfataan IT dalam KBM, misalnya, selain terkendala dana, ia meuntut kemampuan masing-masing individu untuk mengoperasikannya. Ok, operasionalisasi ini bisa dibantu oleh teknisi. Namun, apakah fakultas telah menyediakan tenaga teknisi? Pemanfaatan IT ternyata menuntut individu untuk tidak sekedar mengoperasikannya. Konkritnya, kita harus mampu mengoperasikan komputer; membuat media dengan komputer; memiliki blog/web dan mampu memeliharanya, dan sebagaimana dan seterusnya. Pertanyaannya, sudahkah kita mengupayakan kepada kita sendiri dan kepada warga fakultas secara keseluruhan untuk melek IT itu? . Hendaknya, tidak hanya menyarankan atau mengharuskan atau bahkan menginstruksikan untuk memanfaatkan IT tetapi kita sendiri tak tahu sama sekali tentang IT. Kalau hanya memberikan perintah saja, hendaknya dihindari saja. Mari belajar dulu, baru memberikan perintah. Berikan contoh atau teladan dalam hal IT dan pemanfaatannya.

Agenda besar lain adalah pembuatan rancangan pedoman akademik, pedoman penulis karya ilmiah, dan lain-lain. Ini bagus, bahkan bagus sekali. Namun, perlu diingat bahwa pedoman yang ada masih dapat digunakan. Hal terpenting sebenarnya bukan melakukan revisi pedoman, khususnya pedoman akademik, tetapi memaksimalkan implementasi pedoman akademik itu dalam kehidupan akademis di fakultas. Pertanyaannya? Apakah pedoman yang ada itu telah dijalankan sebagaimana mestinya?

Agenda besar lain yang cukup menyita perhatian, tenaga dan pikiran adalah revisi kurikulum. Pertengahan September 2008, pertemuan akbar digelar. Sejumlah peserta rapat membahas secara habis-habisan dan cenderung emosional. Sebab, berbagai alasan atau pemikiran yang cukup rasional tidak ditanggapi dengan cara yang sama. Kalau boleh dikatakan, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kekuasaan. Konkritnya? Bahwa revisi kurikulum bagai kata pepatah ” tak semudah membalik telapak tangan”. Atas dasar perdebatan sengit diwarnai sikap cukup emosional, disepakati: revisi kurikulum diselesaikan di tingkat jurusan/program studi, selama enam bulan.

Persoalan muncul, ketika fakultas (dengan input dari PD 1) mengundang lokakarya kurikulum pada tanggal 12 November 2008. Artinya, kesepakatan penyelesaian revisi kurikulum dalam enam bulan, dilabaikan. Undangan lokakarya itu telah beredar pada akhir Oktober 2008. Sejumlah kaprodi bereaksi dan menyampaikan halnya kepada dekan, dengan mengacu pada kesepakatan pada lokakarya pertengahan September 2008. “Gimana nich, kan belum enam bulan, koq sudah ada undangan lokakarya?”, komentar salah seorang dari salah satu program studi di FKIP.

Beberapa hari sebelum lokakarya revisi kurikulum ke dua itu digelar, ada surat penundaan lokakarya sampai waktu yang belum ditetapkan. Dalam kaitan ini, dekan berlaku bijaksana. Mengapa? Bila lokakarya yang belum saatnya digelar itu dipaksakan, akan beberapa kemungkinan hal yang akan terjadi. Perdebatan sengit seperti lokakarya pertama mungkin akan terulang. Kalau tidak, para kaprodi hanya menampilkan sesuatu ala kadarnya, karena memang, revisi kurikulum di prodinya belum dilaksanakan secara tuntas. Masih sepenggal-sepenggal alias tidak seutuhnya. Apalagi, “pedoman” yang turun dari “langit” ternyata membingunkan dan sering berubah-ubah seiring dengan masuknya informasi baru. Muncul lagi informasi terbaru, pedoman atau tepatnya petunjuk berubah lagi. Hal ini membuat sejumlah dosen bekerja dua sampai tiga kali seiring perubahan petunjuk. Seyogyanya, pedoman itu didasarkan pada hasil kesepakatan. Bila keliru, keliru semua; bila benar, ya benar semua. Tak ada yang dipersalahkan bila ada kesalahan. Kalau begini, kesan pertama atas berubah-ubahnya pedoman itu adalah belum matangnya perencanaan, konsep dan lain-lain di tingkat fakultas. Bukan kita menolak perubahan menuju hal ideal. Tapi, berikan waktu yang cukup dan bila perlu sokongan dana yang memadai.

Bila waktu yang disediakan cukup dan sokongan dana memadai, kerja dosen akan maksimal. Harap diingat, bahwa para dosen kita masih banyak yang mencari penghasilan tambahan di sela-sela tugas wajibnya. Jadi, bila sekiranya dana fakultas memungkinkan, alangkah bagusnya, dana itu tidak hanya diarahkan kepada pengembangan fisik saja tetapi juga kepada pengembangan non-fisik, termasuk memberikan intensif bagi dosen yang berkarya. Karya dosen tidak hanya penelitian atau pengabdian masyarakat. Membuat peranti pembelajaran ( silabus, RPP, dan buku ajar dan sebagainya) bisa diartikan sebagai karya akademis. Hendaknya, ada reward bagi dosen yang berkreasi/berkarya.

Dalam hal ini, perlu dibikin mekanisme pemberian reward. Menulis artikel di koran, jurnal ilmiah, buku ajar, dan sejenisnya, misalnya, dihargai berapa. Bila begini apresiasinya, dosen akan menjadi kreatif, inovatif dan produktif. Namun, bila dosen hanya diminta kerja dalam suatu tim untuk mengerjakan, katakan saja, rancangan pedoman akademik tanpa adanya reward, maka mereka tidak ada bedanya dengan mereka di luar tim. Walau semua kita tahu, bahwa membela lembaga itu hukumnya wajib. Kalau boleh dibagi, ada wajib secara individu dan wajib secara kelompok (tim). Tak salah kiranya bila tim yang notabene mewakili semua itu diberi apresiasi khusus. Bila tidak, tidak fair namanya. Sebab, jelas kerja mereka menjadi ganda: sebagai individu dan sebagai anggota tim kerja. Sebagai pemain ganda, mereka hendaknya tidak dipandang dengan sebelah mata.

Bagaimana menurut anda?

One Response to “Program Besar di FKIP Unlam”

  1. sainulh Says:

    Kekhawatiran, kegelisahan, keraguan anda tentang Program Besar FKIP, mungkin juga merupakan kekhawatiran, kegelisahan, dan keraguan warga FKIP lainnya. Sebab, selama ini kita sudah terbiasa dengan fikiran-fikiran “besar”. Kita sudah kenyang dengan program-program “besar”. Tetapi, yang sangat minim – jika kita tidak tega mengatakannya, adalah tindak lanjut. What’s next getho loh! Dampaknya? You perhatikan sendiri deh.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: