Sastra dalam Pandangan Interdisipliner (Sebuah Contoh Telaah Singkat)

Oleh : Fatchul Mu’in

Jika dikatakan bahwa karya sastra merupakan fenomena kehidupan manusia, yang secara garis besar menyangkut: (a) persoalan manusia dengan dirinya sendiri, (b) hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial termasuk dalam hubungannya dengan lingkungan alam, dan (c) hubungan manusia dengan Tuhannya (Nurgiyantoro, l998:323), maka banyak sisi kehidupan manusia yang (dapat) dicakup oleh karya sastra, misalnya, kesedihan, kegelisahan, kekecewaan, kemarahan, keheranan, protes, dan pikiran atau opini. dan lingkungan, tatanan sosial, tatanan politik dan sejenisnya. Dengan demikian, karya sastra identik (walau tidak persis sama) dengan berita di koran, laporan penelitian antropologi, sosiologi, psikologi dan sejarah. Sebab, karya sastra dan karya non sastra tersebut berbicara tentang manusia, kehidupan manusia, peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengannya, tempat dan waktunya. Hal yang membedakan adalah cara menyatakannya dan asumsi pembaca terhadap jenis tulisan tersebut.

Cara menyatakan petani melarat dalam bahasa karya sastra akan berbeda dengan cara yang digunakan dalam bahasa antropologi, sosiologi, psikologi dan berita di koran, meskipun fakta yang ditulis sama. Demikian pula, asumsi pembaca terhadap teks sastra dan teks non sastra tampak berbeda. Secara umum orang beranggapan bahwa karya sastra itu selalu imaginer, fiktif atau khayal belaka; dan bahwa laporan penelitian antropologi, sosiologi, psikologi, sejarah dan berita di koran selalu nyata dan benar adanya. Benarkah bahwa seorang sastrawan menulis karyanya tidak berdasar pada fakta di zamannya sehingga tulisannya bersifat fiktif belaka? Sebaliknya, apakah seorang sejarawan, sosiolog, antropolog, atau reporter menulis fakta di lapangan secara benar-benar obyektif, independen, tanpa dipengaruhi subyektifitas, kepentingandan ideologi? Atau, barangkali orang akan mengatakan bahwa ketika karya sastra dan karya non sastra telah menjadi karya teks bisa saja mengandung unsur subyektif bila dilihat dari sudut pandang yang berbeda?

Memang, sepengetahuan penulis, orang-orang yang mengatakan bahwa karya sastra itu –walaupun bersifat imaginer, fiktif, khayal alias tidak nyata- mengetengahkan fakta tentang kehidupan manusia dan sejumlah sisi yang menyertainya, adalah mereka yang menggeluti atau berkecimpung dalam dunia sastra. Sementara masyarakat secara umum dan kalangan akademisi tertentu menganggap bahwa karya sastra adalah benar-benar imaginer, fiktif, atau dunia rekaan pengarang yang kurang, atau bahkan tidak, berhubungan dengan dengan sejarah, sosiologi, psikologi, studi pembangunan, politik, moral, agama dan sebagainya.

Dengan cara pandang interdisipliner kita akan dapat melihat bahwa disiplin-disiplin tertentu tidak lebih unggul atau lebih favorit daripada yang lain. Sebab, setiap disiplin memiliki kekurangan dan kelebihan dalam melihat fenomena kehidupan manusia; setiap disiplin memiliki obyek dan permasalahan yang diselesaikan dengan caranya yang khas dan tidak dapat diselesaikan oleh oleh disiplin lain. Cara Pandang interdisipliner dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan yang memiliki banyak sisi. Atau dengan perkataan lain, cara pandang interdisipliner dalam kasus-kasus tertentu sangat diperlukan, karena penjelasan yang menyeluruh terhadap satu hal atau fenomena dapat diperoleh.

Karya sastra, novel misalnya, dapat dipandang sebagai potret kehidupan manusia. Di dalamnya, sang pengarang mengetengahkan model kehidupan para tokoh dan kondisi sosial yang antara lain mencakup struktur sosial, hubungan sosial, pertentangan sosial, hubungan kekeluargaan, dominasi kelompok yang kuat terhadap yang lemah, dan sisi-sisi kehidupan sosial lainnya, seperti layaknya kehidupan nyata. Dengan demikian, menghayati dan memahami karya sastra sama halnya menghayati dan memahami manusia dan kehidupannya dalam segala segi, yang pada hakikatnya masing-masing segi tersebut dapat dipelajari oleh disiplin-disiplin ilmu yang bergayut dengan manusia (ilmu-ilmu humaniora/sosial) lain.

Bila studi sastra secara interdisipliner bisa memanfaatkan disiplin-disiplin ilmu humaniora/sosial yang lain, maka pada gilirannya studi sejarah, sosiologi, antropologi, psikologi misalnya) bisa memanfaatkan karya sastra sebagai salah satu sumber datanya. Dalam kaitan ini, menurut Selden (l989), karya sastra pun dapat dianggap sebagai data sejarah, antropologi, psikologi, dan disiplin-disiplin ilmu humaniora/sosial yang lain.

Memahami karya sastra dengan cara pandang interdisipliner memungkinkan kita untuk mengerahui banyak fenomena yang terjadi dalam kehidupan manusia sebagaimana tercermin dalam karya sastra. Kita ambil contoh sebuah novel Di Kaki Bukit Cibalak karya Ahmad Tohari. Dalam novel itu pengarang menggambarkan pola hubungan seorang Kepala Desa dan rakyatnya.

Secara politis kepala desa adalah pemimpin desa yang dipilih langsung oleh rakyat. Dalam proses pemilihan kepala desa, masing-masing calon berkompetisi untuk bisa memenangkan pemilihan itu. Artinya, jabatan kepala desa itu diraih secara politis. Cara meraih jabatan itu secara politis bisa bersifat baik dan bisa pula bersifat tidak baik atau curang. Cara yang baik bisa berupa penyampaian program yang akan dilaksanakan bila yang bersangkutan terpilih; cara ini menyaran pada upaya menarik simpati (tanpa diikuti pemberian uang atau menggunakan politik uang, misalnya, para calon pemilihnya. Namun tak jarang banyak dugaan bahwa dalam kompetisi itu para calon itu menggunakan cara-cara yang tak terpuji, misalnya: money politics atau siasat-siasat tak terpuji lainnya.

Calon yang menang dan kemudian dikukuhkan menjadi kepala desa, pada umumnya, akan berhadapan pihak yang kalah berikut dengan para pendukung setianya. Kepala desa terpilih dengan cara yang simpatik, jujur atau sejenisnya biasanya melakukan rekonsiliasi dengan cara yang simpatik untuk tidak melukai bekas saingannya, tanpa memandang pihak yang kalah sebagai lawan secara terus menerus. Dengan perkataan lain, kepala desa terpilih mungkin saja mendapatkan banyak persoalan bilamana dia gagal melakukan rekonsiliasi dengan pihak calon yang kalah berikut dengan sejumlah pendukungnya. Terlebih sulit lagi bagi kepala desa itu bilamana pihak yang kalah dan pendukungnya dipandang sebagai lawan politiknya.

Seperti tercermin dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak tersebut kepala desa yang terpilih diduga oleh sementara pihak pada saat pemilihan bahwa dia telah melakukan berbagai kecurangan. Dia tidak melakukan rekonsiliasi dengan pihak-pihak yang kalah. Sebaliknya dia malah berusaha menyingkirkan setiap orang yang dengan sengaja mengungkap kecurangan-kecurangan yang dia lakukan pada saat pemilihan. Adalah Pambudi, tokoh protagonis, yang berusaha untuk menegakkan keadilan di desanya terdepak oleh kepala desanya. Dia terpaksa meninggalkan desanya, keluarganya, kekasihnya akibat tekanan yang teramat kuat dari kepala desanya. Namun, upaya Pambudi untuk melengserkan kepala desanya yang zalim (sewenang-wenang, korup, suka kawin secara paksa, berlaku asal bapak senang (ABS) terhadap atasannya dan sejenisnya) dari jabatannya , tak kunjung padam bahkan meningkat intensitasnya. Dia dengan gencarnya menggoyang kepala desanya melalui artikel-artikelnya di Koran Kalawarta.

Melihat novel Di Kaki Bukit Cibalak itu diterbitkan pertama kali pada tahun 1994, maka bisa kita katakana bahwa situasi politik pada waktu itu atau bahkan sebelumnya masih kental dengan nuansa politik orde baru di mana seorang pemimpin, katakan kepala desa/ lurah, memiliki dominasi yang sangat kuat terhadap rakyatnya. Kehadiran novel itu, menurut teori novel sosial/ novel protes, dimaksudkan untuk mengkritisi pemegang dominasi kekuasaan pada waktu itu. Jika dilihat dengan pendekatan mikro-makro terhadap karya sastra, maka seorang kepala desa seperti tercermin dalam novel itu sebenarnya merupakan representasi dari banyak kepala desa atau pemimpin politis lainnya dan seorang Pambudi seperti tercermin juga dalam novel itu merupakan representasi dari sekian orang yang berani mengkritisi pemimpin politis. Tampaknya, belum banyak orang yang ‘berani’ mengkritisi kepala desa atau pemimpin politis lainnya pada waktu itu. Kalau boleh saya mengatakan, pada waktu itu, hanya ada tiga orang saja yang berani ‘melawan’ pemimpin politis, satu di antaranya, Ahmad ‘Pambudi’ Tohari.

Suatu pandangan lain adalah menyangkut masalah status dan peranan. Secara sosiologis seseorang yang dalam keseharian sebagai warga biasa menjadi pejabat berarti yang bersangkutan naik statusnya. Status yang demikian disebut achieved status, bukan ascribed status. Istrinya pun dengan serta merta menyandang status baru. Status seseorang sebagai kepala desa dan memerankan peranannya sebagai akibat dari statusnya itu merupakan tindakan yang wajar dan memang seharusnya demikian. Namun, akan menimbulkan interpretasi lain bila peranan istri pemimpin desa itu seperti layaknya seorang kepala desa; wanita yang memainkan peranan yang demikian itu melebibi status yang disandangnya, yakni hanya sebagai istri seorang pemimpin desa.. Sebagaimana tercermin dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak itu, bahwa peranan istri kepala desa dan istri camat tampak dominan bahkan lebih dominan ketimbang suami-suami mereka. Kalau boleh saya katakana bahwa di desa/ kecamatan itu terdapat dua kepala desa dan dua camat, yang satu formal dan yang satunya lagi informal. Namun justru yang informal lebih ‘mengepala desa’ daripada kepala desa dan lebih ‘mencamat’ daripada camat.

Sebenarnya, penggambaran peranan istri kepala desa/camat oleh Ahmad Tohari dapat dipahami sebagai kritik terhadap banyaknya campur tangan istri kepala desa/ camat dalam hal-hal di luar kewenangan mereka. Dalam hubungan dinas kepemerintahan, tentu ada batas-batas yang memisahkan wewenang kepala desa/camat dengan wewenang istri kepala desa/ camat. Sebagai missal, istri kepala desa/ camat tidak selayaknya memberikan komando atau instruksi yang sebenarnya menjadi kewenangan. Namun, seperti tercermin dalam novel itu bahwa istri kepala desa lebih dominan daripada suaminya; dia dengan semaunya sendiri memberikan perintah kepada bawahan kepala desa, dan bahkan lebih dari itu, dalam urusan kepemerintahan, dia ‘berani’ mengatur suaminya. Pada era sekarang, masihkah peranan wanita istri pejabat (yang sebagai ketua Tim Penggerak PKK) seperti peranan wanita istri kepala desa/camat dalam novelnya Ahmad Tohari?

Dari pandangan moralitas, bahwa secara moral suatu jabatan harus dipersembahkan kepada kepentingan publik, rakyat banyak. Yang bersangkutan hendaknya tidak mementingkan kepentingan pribadi atau kelompoknya, tetapi dia hendaknya berdiri di atas kepentingan rakyat tanpa pandang bulu. Jabatan kepala desa, misalnya, hendaknya dimanfaatkan untuk memberikan pengayoman terhadap seluruh rakyat di wilayah desanya. Sebagai orang yang memiliki dominasi kekuasaan, kepala hendaknya tidak memanfaatkan kekuasaannya untuk menindas, menekan, mempersulit rakyatnya. Seperti tercermin dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak , seorang kepala desa memanfaatkan dominasinya untuk menggilas lawan-lawan politiknya, menekan yang lemah, memperlakukan secara berbeda atau tidak adil terhadap yang pro dan yang kontra dengannya.

Suatu pandangan lain berasal dari ajaran agama. Dari ajaran agama (Islam khususnya) yang, antara lain, mengajarkan kepada manusia untuk amar ma’ruf dan nahi munkar. Ahmad Tohari, pengarang novel Di Kaki Bukit Cibalak, yang terlahir dari keluarga muslim taat dan dibesarkan di lingkungan pesantren , atas dasar teori pendekatan sastra secara ekspresif, dapat dikatakan bahwa dia merasa ‘gelisah’ atas perilaku para pemimpin di negeri ini dan kemudian mengungkapkan ‘kegelisahan’nya itu dalam bentuk karya sastra. Dalam kaitan ini, kalau boleh saya katakana bahwa pada hakikatnya dia ber-amar ma’ruf dan nahi munkar; dia mengajak para pembaca sekalian untuk melakukan kebaikan dan mencegah perbuatan melanggar larangan Tuhan (dosa)

Ilustrasi lain tentang penerapan pendekatan interdisipliner untuk memahami novel karya Richard Wright yang berjudul Native Son. Dalam novel ini pengarang mengetengahkan model/pola hubungan antara orang-orang Amerika kulit putih dan kulit hitam. Menurut hemat penulis, pengarang novel ini tampak netral dalam pola hubungan itu. Pada satu sisi, walaupun dia berkulit hitam, dia mengkritisi sesama orang kulit hitam yang malas, munafik, tak berdaya dan tergantung pada orang kulit putih; pada sisi lain, dia mengecam keras orang-orang kulit putih yang menekan, menzalimi, sewenang-wenang dan sejenisnya terhadap orang-orang kulit hitam. Dalam pola hubungan itu terjadi dominasi orang kulit putih diikuti oleh efek-efek negatif bagi kaum kulit hitam.

Dari perspektif sejarah, misalnya, sebagian besar orang-orang Amerika kulit hitam adalah bekas budak, sehingga ketika mereka menjadi orang-orang bebas (freedmen), mereka dipandang sebagai bermartabat rendah (inferior) dan tidak layak untuk diposisikan sederajat dengan orang-orang kulit putih. Sehingga, dalam perspektif sosiologi (sistem kelas sosial) orang-orang kulit putih memandang diri mereka sebagai superior dan orang-orang kulit hitam sebagai inferior dan diperlakukan secara tidak adil. Orang-orang kulit hitam diposisikan dalam warga negara kelas dua (second-class citizens). Dalam perspektif politik, kita dapat melihat adanya ketidaksamaan hak politik antara kulit putih dan kulit hitam. Menurut aturan dasar sebagaimana tersurat dalam Declaration of Independence, bahwa ‘all men are created equal’. Namun, dalam sejarah politik Amerika tampak terjadi pengingkaran terhadap salah satu doktrin dalam deklarasi itu. Dalam perspektif psikologi, kita dapat melihat adanya perasaan rendah diri, tak percaya diri, takut, dan sejenisnya pada orang kulit hitam, yakni sebagai akibat penindasan mental yang dilakukan oleh orang kulit putih terhadap mereka, secara turun temurun mulai masa perbudakan hingga saat ditulisnya novel tersebut. Dari perspektif ekonomi (dunia usaha), kita dapat melihat pola hubungan usaha yang tidak imbang antara orang kulit hitam dan kulit putih, di mana, antara lain, kesempatan usaha pada orang kulit hitam sangat dibatasi oleh orang kulit putih.

=

=

=

DAFTAR PUSTAKA

Abrams, M.H. 1971. The Mirror and the Lamp. Oxford : Oxford University Press.

Aminuddin. 1995. Pengantar Aspresiasi Karya Sastra. Bandung : Sinar Baru Algensindo.

Fananie, Zainuddin. 2000. Telaah Sastra. Surakarta : Muhammadiyah University Press.

Fatchul Mu’in. 2001. Richard Wright’ Native Son: A Study of White Dominaation and Its Effects on African-Americans. (Thesis S-2). Yogyakarta : Gadjah Mada University

Hoerip, Satyagraha.(Editor). 1982. Sejumlah Masalah Sastra. Jakarta : Sinar Harapaan.

Lewis, Leary. 1976. American Literature: A Study and Research Guide. New York: St. Martin’s Press.

Martin, James Kirby dkk. 1989. America and Its People. New York : Harper Collins Publishers.

McDowell, Tremaine. 1948. American Studies. Menneapolis: The Universitas of Menneapolis.

Rohrberger, Mary & Samuel H. Woods. 1971. Reading and Writing about Lirature. First Edition. New York : Random House.

Tohari, Ahmad. 2001. Di Kaki Bukit Cibalak. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Stowe, Hariet Beecher. 1852. Uncle Tom’s Cabin. New York : Harcourt, Brace & World, Inc.

Sumarjo, Yakop. 1982. Masyarakat dan Sastra Indonesia. Yogyakarta : C.V. Nur Cahaya.

Wellek, Rene & Warren, Austin.1956. Theory of Literature. New York : Harcourt, Brace & World, Inc.

Wright, Richard. 1966. Native Son. New York : Harper & Row Publishers, Inc.

5 Responses to “Sastra dalam Pandangan Interdisipliner (Sebuah Contoh Telaah Singkat)”

  1. puan mia Says:

    saya hanya penikmat sastra. untuk menulis sebagaimana teks sastra..wah susah juga ya. Kata bang Sandi , tulisan saya lebih mendekati gaya teenlit (yang gak nyastra sama sekali)- yang saya dengar dari seorang teman. tapi ya biarlah, toh artinya saya punya gaya sendiri dalam menulis fiksi. terserah orang menilai apa. tapi saya setidaknya saya tidak pernah membenci teks sastra, sebagaimana karya gola gong, andrea hirata juga E.S Ito. Mereka jadi favorit saya sekarang. Orang-orang tidak mengklaim mereka sebagai sastrawan ? Ya terserahlah.. kalau begitu terus, sampai kapan orang akan mengenal dan mencintai sastra. Sastra yang cerdas, sastra yang alim, sastra yang menyejukan, sastra yang menggaungkan perubahan tanpa bumbu seks murahan.

  2. efem Says:

    Biarkan saja orang bilang karya kita gak nyastra. Tulisan itu tetap ada manfaatnya. Bermanfaat bagi orang lain dan dapat apresiasi dari orang lain, syukur. Bila tidak, tulisan itu tentu ada manfaat bagi sang penulisnya. Yang terpenting, tulis, tulis, dan tulis apa saja yang kita mau. Terserah orang, mau menilai bagus atau tidak. Biasanya, orang yang suka mencela adalah orang yang tidak dapat melakukan hal serupa. Penulis tak akan mencela tulisan orang, dia selalu appreciate karya orang. Lanjut saja menulisnya!

  3. sanding Says:

    Mohon dibaca dan dicari di google untuk perbandingan ‘Sastra Interdisipliner: Manyandingkan Sastra dan Disiplin Ilmu Sosial’ (ed. Muh Arif Rokhman), Yogyakarta: Qalam bekerjasama dengan Forum Sastra Banding; 2003

  4. forumsanding Says:

    Forum Sastra Banding FIB UGM akan mengadakan Diskusi Sastra Interdisipliner 6 pada bulan September 2013. Lihat di http://forumsanding.wordpress.com/

  5. Tri Wahyu Nugroho Says:

    Kepada Yth. Pak Fatchul Muin
    Pak Muin mohon info no hp anda atau no telop prodi yang bisa saya hubungi Ada hal penting yang ingin saya sampaikan ke pak Muin.
    Terima kasih sebelumnya.

    Tri Wahyu Nugroho
    Universitas Gajayana Malang
    No. HP: 081 655 8415


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: