Sastra Banjar itu Jadi Bahan Perdebatan?

Oleh: Fatchul Mu’in*)

Sastra adalah bahasa (Elkins, 1976 : 2). Implikasi dari pengertian itu adalah bahwa karya sastra menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Karena karya sastra menggunakan bahasa, maka pada batas-batas tertentu dapat dikatakan bahwa karya sastra adalah bahasa, yakni bahasa yang mewadai nilai-nilai kemanusiaan atau aspek-aspek kehidupan manusia. Mari kita ikuti gagasan Elkins sebagai berikut.

“What is literature? What, for example, is its ‘raw material’? And the answer is, in every case – Language! Language either spoken, or written. If we can say that Literature is Language, perhaps we would be rather more precise and say that Literature consists of certain rather specialized forms, selections and collections of Language (Elkins, l976 : 2).

Kendati karya sastra memanfaatkan bahasa, namun penggunaan bahasa dalam sastra akan berbeda dengan penggunaan bahasa di luar sastra. Bahasa dalam karya sastra memiliki kekhususan baik dalam bentuk (form), pilihan (selection) maupun koleksi (collection)-nya. Karena kekhususannya bahasa dalam sastra akan berbeda dengan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan bahasa dalam sastra akan berbeda dengan penggunaan bahasa dalam dunia kepengacaraan. Seorang pengacara, misalnya, akan banyak berhubungan dengan penggunaan bahasa, namun ia sama sekali tidak berhubungan dengan sastra. Di sisi lain, seseorang yang terlibat dalam dunia sastra, dalam banyak hal, akan berhubungan dengan penggunaan bahasa (Elkins, 1976:3).

Bahasa itu wadah budaya?

Bahasa dan budaya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Hal ini karena bahasa merupakan salah satu unsur budaya, sedangkan budaya itu sendiri adalah sesuatu yang sebagiannya diformulasikan dalam bentuk bahasa.

Budaya memberikan pedoman bagi masyarakat yang memilikinya. Ia mengajarkan bagaimana manusia harus bertingkah laku, termasuk bertingkah laku dalam berbahasa. Sebagian tata cara bertingkah laku itu dapat diungkapkan dengan bahasa. Jadi, di sini terdapat kesulitan untuk membedakan atau memisahkan bahasa dari budaya atau budaya dari bahasa.

Jika dikatakan bahwa bahasa merupakan sistem simbol atau tata lambang, maka ia dapat mengungkapkan tata lambang kepercayaan, pengetahuan, penilaian baik-buruk dan ekspresi (keempatnya merupakan aspek-aspek budaya). Tata lambang kepercayaan adalah tata lambang yang bertalian dengan kepercayaan manusia terhadap Tuhan yang menentukan hidup dan kehidupan manusia atau terhadap kekuatan supernatural di luar kekuatan manusia. Tata lambang pengetahuan adalah tata lambang yang dihasilkan manusia dalam upayanya untuk memperoleh pengetahuan terhadap segala sesuatu di lingkungannya. Tata lambang penilaian adalah tata lambang yang bertalian dengan nilai baik-buruk, betul-salah, pantas-tak pantas dan sebagainya. Tata lambang eskpresi adalah tata lambang untuk mengungkapkan perasaan atau emosi manusia (Soetomo, 1985).

Sastra, Bahasa, dan Budaya

Di satu sisi, sastra adalah bahasa; di sisi lain, bahasa (dalam hal-hal tertentu) mampu mewadahi budaya manusia. Lalu, secara otomatis, apakah sastra Banjar adalah sastra (ber)bahasa Banjar? Atau, bisakah dikatakan sastra Banjar adalah sastra yang mengungkap budaya Banjar, apapun bahasa yang digunakan? Bila sastra Banjar harus berbahasa Banjar, maka ciri utama sastra itu adalah bahasa Banjar yang digunakan sebagai mediumnya. Bila sastra Banjar tak harus berbahasa Banjar, maka ciri untuk mengenalinya adalah budaya Banjar yang terungkap lewat karya itu.

Seperti yang pernah saya katakan, dengan meminjam gagasan Wilson, bahwa bila kita mengidentifikasi karya sastra, pertama-tama yang kita lihat adalah bahasa apa yang digunakan untuk mengungkapkan karya seni (bahasa) itu. Bila bahasa yang digunakan sebagai mediumnya adalah bahasa Banjar, karya yang ditulis itu, tentulah –untuk sementara- sastra Banjar. Setelah itu, siapa penulisnya? Bila penulisnya adalah pemakai bahasa Banjar secara natural, maka kita dapat gambaran yang lebih tegas, bahwa karya itu adalah sastra Banjar. Diajukan lagi pertanyaan, apakah persoalan kehidupan yang terungkap dalam karya merupakan representasi dari kehidupan masyarakat Banjar. Bila jawabannya ”ya”, maka secara tegas dan pasti bahwa karya itu adalah sastra Banjar.

Karya sastra, novel misalnya, dapat dipandang sebagai potret kehidupan manusia. Di dalamnya, sang pengarang mengetengahkan model kehidupan para tokoh dan kondisi sosial yang antara lain mencakup struktur sosial, hubungan sosial, pertentangan sosial-(budaya), hubungan kekeluargaan, dominasi kelompok yang kuat terhadap yang lemah, dan sisi-sisi kehidupan sosial(-budaya) lainnya, seperti layaknya kehidupan nyata. Dengan perkataan lain, karya sastra bisa dijadikan sebagai sarana untuk mengungkap budaya manusia.

Memang, budaya manusia bisa saja diungkap dengan bahasa apapun. Budaya Banjar bisa saja diungkap lewat karya sastra dengan bahasa selain bahasa Banjar, sebut saja, bahasa Indonesia. Contohnya? Waduh, contoh karya sastra berbahasa Indonesia yang mengungkap budaya Banjar, saya belum pernah baca. Karya sastra berbahasa Indonesia yang berlatar budaya Dayak Meratus yang pernah saya baca adalah Palas karya Aliman Syahrani. Kalau dasar identifikasinya adalah budaya yang terungkap dalam karya sastra, maka Palas yang ditulis dalam bahasa Indonesia itu adalah sastra Dayak?. Cabaukan karya Remy Sylado yang ditulis juga dalam bahasa Indonesia itu adalah sastra Tionghoa (Cina); sementara Sainul Hermawan mengkaji Cabaukan dengan judul Tionghoa dalam Sastra Indonesia?.

Walaupun budaya masyarakat tertentu (katakan saja, masyarakat plural) bisa diungkap dengan bahasa apapun (katakan saja, bahasa Indonesia). Namun dalam kenyataan, tak semua aspek sosial-budaya, khususnya, yang berkaitan dengan simbol-simbol kepercayaan, (ilmu) pengetahuan, penilaian baik-buruk atau pantas-tak pantas dan sejenisnya, dan pengungkapan emosi, serta status-peranan sosial dan lain-lain, bisa diungkap dengan bahasa lain. Novel Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya adalah contohnya.

Burung-Burung Manyar itu Karya Sastra Indonesia?

Kalau kita membaca novel itu, kita akan tahu betapa kompleksnya masalah yang disampaikan oleh pengarangnya. Karya ini melibatkan berbagai tokoh dengan karakter yang berbeda-beda. Tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam karya itu berasal dari sejumlah kelas sosial yang berbeda. Di dalamnya, ada tokoh yang “konon” keturunan kaum bangsawan, ada tokoh yang berpendidikan, ada tokoh pembantu rumah tangga yang tak berpendidikan, ada tokoh yang “mewakili” masyarakat kelas bawah dan sebagainya. Karena begitu kompleksnya masalah yang ingin disampaikan atau diungkapkan oleh pengarang lewat karyanya itu, maka digunakanlah lebih dari satu bahasa dalam karya (yang diberi label) sastra Indonesia itu.Tokoh Setadewa, yang banyak bergaul dengan orang-orang Belanda, misalnya, harus mampu berbahasa Inggris dan berbahasa Belanda; sedangkan Larasati harus mampu menggunakan istilah khusus (register) biologi, agar masalah-masalah yang hendak disampaikan tampak wajar. Tampaknya, sang pengarang bingung sorangan karena sejumlah aspek budaya tak bisa diungkap dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian rumitnya masalah dalam novel itu, dia “terpaksa” menggunakan bahasa-bahasa selain bahasa Indonesia.

Di samping itu, pengarang novel itu menyadari bahwa “manusia” yang diamatinya dan dijadikan obyek karangannya tidak berasal dari komunitas tutur yang sama, sehingga untuk membedakan karakter tokoh yang satu dengan yang lainnya digunakanlah ciri pembeda, yaitu: bahasa yang digunakan.

Penggunaan bahasa Belanda oleh tokoh Setadewa pada bagian pertama cerita dalam Burung-Burung Manyar itu tidak digunakan lagi pada bagian ketiga novel itu. Pada bagian ketiga, bahasa asing yang digunakan adalah bahasa Inggris. itu tidak digunakan lagi pada bagian ketiga novel itu. Pada bagian ketiga, bahasa asing yang digunakan adalah bahasa Inggris. Perbedaan penggunaan bahasa asing pada bagian pertama dan bagian ketiga ini justru merupakan penggunaan bahasa yang diperhitungkan oleh pengarangnya.

Penggunaan bahasa-bahasa selain bahasa Indonesia dalam novel Burung-Burung Manyar dilakukan oleh pengarang dengan dua macam cara. Cara yang pertama adalah bahwa bahasa-bahasa itu digunakan secara langsung dalam diskripsi peristiwa, tokoh, setting dan sebagainya atau dalam percakapan antar tokoh dalam novel itu. Cara menggunakan bahasa semacam ini dinamakan cara eksplisit, yang dapat dilihat dalam kutipan berikut:

“…..walaupun konon salah seorang nenek canggah atau gantung siwur berkedudukan selir Keraton Mangkunegaran” (BBM, 3). “ Beginilah dear Seta” (BBM, 172).“Bagaimana old fellow, elegan ya istriku berjalan” (BBM, 172).

Cara yang kedua adalah bahwa bahasa-bahasa itu digunakan secara tidak langsung. Cara menggunakan bahasa semacam ini disebut cara implisit. Hal ini dapat kita lihat dalam kutipan berikut:

“Hanya secarik surat dari Mami yang kutemukan. Dalam bahasa Belanda (BBM, 33). “Dalam bahasa Belanda ia tenang berkata padaku” (BBM, 61). “Anak-anak itu melongo mendengarkan percakapan dalam bahasa asing itu”(BBM, 152). “Ia bertanya dalam bahasa Inggris berlogat Perancis” (BBM, 205).

Pertanyaan yang dapat dimunculkan: “Apakah Burung-Burung Manyar itu sastra sastra Indonesia atau sastra internasional?”. Bila sastra Indonesia dibatasi sebagai sastra yang bermedium bahasa Indonesia, maka ia adalah sastra Indonesia; bila pijakan kita pada aspek budaya, maka ia adalah sastra international (dunia). Tapi, apa ada kemungkinan Burung-Burung Manyar masuk atau dimasukkan dalam kategori sastra dunia?.

Mana yang disebut Sastra Banjar?

Walaupun Burung-Burung Manyar memanfaatkan unsur-unsur bahasa daerah atau asing, tapi toh bahasa Indonesia merupakan bahasa yang dominan. Oleh karena itu, ia dikategorikan dalam sastra Indonesia. Dengan mengambil Burung-Burung Manyar sebagai perbandingan, sekiranya batasan yang kita pilih adalah bahwa sastra Banjar adalah sastra yang bermedium bahasa Banjar. Sementara, bila sastra Banjar dibatasi sebagai sastra yang tidak harus bermedium bahasa Banjar namun mengungkap budaya Banjar. Dasar pemikirannya? Sederhana saja, yakni: sastra itu bahasa; sastra Banjar adalah sastra yang berbahasa Banjar. Saya kira, lebih dekat hubungan antara sastra Banjar, bahasa Banjar dan budaya Banjar ketimbang hubungan sastra Banjar, bahasa non-Banjar, dan budaya Banjar. Dalam suatu karya sastra, misalnya, perlu dimunculkan kata dengan makna honorifik ulun (komponen bahasa Banjar). Bila bahasa tidak terlalu penting, maka kata itu bisa diganti dengan saya (komponen bahasa Indonesia). Implikasinya? Sulit mengungkap budaya Banjar yang terpancar dari kata ulun dengan bahasa Indonesia; kira-kira, sama sulitnya mengungkap budaya Jawa atau asing dalam bahasa Indonesia. Linus Suryadi, Y.B. Mangunwijaya, Ahmad Tohari, Umar Kayam, saya kira, pernah membuktikannya.

Tulisan ini pernah dimuat di SKH Radar Banjarmasin, 23 Oktober 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: