PORNOGRAFI

SEMESTINYA PORNO PERFORMANSI JUGA DILARANG!

Oleh : Fatchul Mu’in

Dalam kehidupan keseharian di lingkungan sekitar kita, lingkungan perumahan, jalanan, pasar, mall, bahkan di kampus-kampus, bayak kita jumpai pemandangan yang kontras. Sebagian kaum wanita menggunakan busana yang menutup tubuhnya secara longgar dan rapat; sebagian yang lain menggunakan busana yang ketat, mini.

Menimbulkan Kontrovesi

Seperti telah diketahui, performansi Inul dengan goyang ngebornya (dan Ani Bahar dengan goyang patahnya) menimbulkan banyak reaksi keras dari sejumlah kalangan. Bahkan di sejumlah daerah banyak digelar protes dengan mengerahkan massa yang besar. Tidak ketinggalan Chofifah Indar Parawansa, mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan, ketika diminta pendapatnya pada acara Cek dan Ricek suatu jaringan TV, ikut memprotes juga. Reaksi dan protes yang mungkin terkeras terlontar oleh Si Raja Dangdut, Rhoma Irama. Reaksi keras dan protes itu didasarkan pada anggapan bahwa goyangan ngebor ala Inul dan goyangan patah ala Anisa Bahar telah memicu timbulnya tindak asusila pada penontonnya. Apa bener nich?

Reaksi demi reaksi dan protes demi protes pun ditanggapi oleh sementara pihak yang pro dunia seni, antara lain seorang artis yang cukup terkenal, Nurul Arifin, yang menyatakan bahwa seni itu seni dan hendaknya tidak dikaitkan dunia di luar seni. Bahkan, Gus Dur, sang mantan Presiden pun berseberangan dengan mantan anaknya dan si Raja Dangdut. Namun, belakangan Gus Dur diberitakan “menyetujui” keberatan Rhoma Irama. Di sisi lain, Inul yang dibela oleh sejumlah pihak malah takluk di hadapan Rhoma Irama dan minta maaf kepadanya; sementara Anisa Bahar memilih untuk mengajukan somasi lewat pengacaranya kepada si Raja Dangdut tersebut. Terjadilah gonjang-ganjing goyang ngebor dan goyang patah.

Faktor Internal dan Eksternal

Kali ini, saya akan mengajukan pertanyaan: “Apakah benar hanya karena goyangan ngebor atau goyangan patah itu sejumlah penonton atau pengemar menjadi rusak moralnya sehingga mereka melakukan tindak asusila? Apa “tuduhan” itu tidak berlebihan? Menurut saya, rusak atau bejatnya moral yang berakibat timbulnya tindak asusila disebabkan oleh banyak faktor, tidak hanya akibat “dibor” Inul. Faktor-faktor itu bisa bersifat internal, yang berasal dari individu pelaku itu sendiri dan eksternal, yang bersumber dari luar individu pelaku bersangkutan.

Faktor internal penyebab tindak asusila, dilihat dari agama, adalah rendahnya (baca: labilnya) moral agama yang ada pada dirinya. Agama, antara lain, telah mengajarkan manusia bagaimana ia melihat, memahami, dan mengambil sikap terhadap berbagai gejala, peristiwa maupun hal-hal yang terjadi di sekelilingnya.

Teori Psikoanalisisnya Sigmund Freud, yang menjelaskan bahwa dalam diri manusia ada tiga kekuatan: id, ego dan superego. Id berarti kekuatan naluriah untuk hidup dan mempertahankan diri dan melestarikan jenisnya; ego berarti kesadaran diri akan keberadaannya di antara id-id dan alter-alter (ego-ego pada orang lain) dalam memenuhi kebutuhannya; dan superego unsur-unsur kultural umum yang telah terpateri dalam dirinya, yang akan memimpin, memedomani tingkah-lakunya sesuai dengan nilai dan norma-norma yang telah disepakati oleh para anggota masyarakat di mana pelaku atau seseorang itu hidup (dalam Istiati Soetomo, 1985).

Ego atau identitas individual merupakan kekuatan sentral dalam diri manusia. Ego ini bisa memperlihatkan kepribadian pemiliknya. Secara internal, perilaku ego dipengaruhi oleh superegonya (baca: moralitasnya) dalam mengendalikan id (baca: naluri seksnya). Bila “bagian” pengendalinya mantap, kokoh, baik atau sejenisnya, maka sekuat apapun terpaan faktor-faktor eksternal (salah satunya: goyang ngebornya Inul) si ego akan memilih perilaku susila ketimbang asusila.

Dengan demikian, perilaku asusila (baca: penyimpangan seksual yang berupa pemerkosan) setelah menyaksikan goyang ngebornya Inul sebenarnya, menurut saya, bersumber dari masing-masing ego pelakunya. Karena mereka memiliki mental agama yang lemah, mereka akan mudah berbuat tak senonoh; mereka sulit mengendalikan emosi dan hasrat seksualnya sehingga bila ada rangsangan sepintas imannya mudah goyah.

Goyang ngebornya Inul hanyalah salah satu dari sekian faktor eksternal yang bisa mempengaruhi orang untuk melakukan tindak asusila. Itu pun bila benar bahwa seseorang pelaku pemerkosaan disebabkan hanya oleh goyang ngebornya Inul. OK, katakan saja bahwa faktor eksternal itu memiliki pengaruh yang signifikan pada perilaku menyimpang seseorang. Mari kita bongkar lagi faktor-faktor eksternal yang lain. Kita tentu saja tahu tayangan Televisi (iklan, sinetron, musik, dan acara hiburan lain) dan media cetak (koran, majalah dalam kolom tertentu) banyak memamerkan atau mempertontonkan sex appeal (daya tarik seksual) wanita.

Pornografi di Media Massa

Para produsen atau pemasang iklan di televisi seringkali menggunakan slogan yang mengimplikasikan keunggulan produk mereka dari produk yang lain. Di samping slogan, mereka juga memanfaatkan simbol-simbol prestise, kecantikan, kehebatan, kekuatan dan sebagainya; dan tidak jarang mereka lebih menonjolkan daya tarik seks (sex appeal) daripada pengenalan produknya. Sinetron-sinetron di televisi baik hasil produksi domestik maupun mancanegara banyak menonjolkan daya tari seksual ketimbang aspek moralnya. Koran dan majalah juga melakukan hal yang sama ketika memberitakan artis/selebritis: memamerkan daya tarik seksual wanita.

Yang luput dari perhatian kita adalah perilaku keseharian wanita kita. Dalam kehidupan keseharian di jalan-jalan, di pasar, di mall-mall, di tempat-tempat hiburan, bahkan di kampus-kampus dan sebagainya, banyak pula para wanita mempertontonkan daya tarik seksual mereka. Dengan demikian, bila faktor-faktor eksternal tersebut menjadi biang keladi timbulnya tindak asusila maka akan tidak bijaksana jika hanya Inul dan Anisa Bahar yang dipersalahkan.

Sebenarnya, hebohnya goyang ngebornya Inul dikaitkan dengan soal daya tarik seksual. Soal daya tarik seksual bukan hanya datang dari Inul dan atau Anisa Bahar. Ia datang dari media cetak, elektronik dan kehidupan keseharian. Adalah hak semua orang untuk melakukan sesuatu yang indah, artistik, menarik dan sejenisnya.

Produsen atau pengelola televisi, misalnya, memiliki hak untuk membuat iklan dan program hiburan. Namun, masalah pendidikan moral seyogyanya menjadi pertimbangan utama, artinya, tidak semata-mata demi keuntungan ekonomis. ‘Self-Censorship’ bisa dilakukan dengan cara, misalnya, mendesain dan menayangkan iklan/program hiburan yang tidak berbau pornografi, tidak bertentangan dengan nilai-nilai sosial, moral, dan agama. Dengan perkataan lain, model pakaian, perilaku dan sejenisnya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama dan nilai-nilai luhur bangsa seyogyanya tidak ditampilkam, karena hal itu akan memiliki dampak tak baik bagi moralitas anak bangsa.

Solusi

Dalam kaitan ini, media massa terutama TV hendaknya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dalam kerangka membangun moral anak bangsa. Media massa memiliki kebebasan. Kebebasan bagi media massa adalah hak; penyampaian pesan-pesan moral (moral teaching) adalah kewajibannya. Semua orang yang terlibat dalam dunia media massa, hendaknya melakukan ‘self-censorship’ sebelum produk pers (media massa) disiarkan kepada khalayak.

Demikian juga, adalah hak para kaum hawa untuk memilih cara dan model pakaian. Namun, perlu diketahui bahwa model pakaian yang ketat dan bila dikenakan akan memperlihatkan bangun tubuh aslinya, akan menimbulkan atau menyebabkan “memanasnya” hasrat lelaki yang melihat. Bila terlalu sering melihat “tontonan yang menggairahkan” semacam itu, mungkin saja, seseorang akan tergoyah imannya. Bila hal ini terjadi, sementara yang si empunya ego tidak memiliki ketahanan yang kuat, maka ia menyalurkan gairah birahinya secara asusila. Untuk itu, dalam kehidupan keseharian hendaknya kaum hawa hendaknya tidak mempertontonkan seks appeal dengan cara berpakaian serba ketat. Wallahu a’lam.

4 Responses to “PORNOGRAFI”

  1. puan mia Says:

    hm… benar apa jar sampiyan pak’ai. Internal seseorang memang harus diperbaiki supaya dia bisa kokoh iman juga mampu mengubah apa yang merusak iman. Eksternal juga harus diatur dengan baik, karena kalo tidak diatur dengan baik pastinya akan terus bertebaran para perusak iman itu tadi. Para perusak iman ini juga ada kadernya Pak. Mun kada dihalau mereka akan terus berkembang-biak. Sinergi pemerintah dan rakyat tentunya harus satu-padu untuk memunculkan kekuatan tontonan yang sehat dan mendidik. Kalaupun rakyat adalah pengusaha entertainmen, maka kalo dia menayangkan kreasinya tentunya kada hanya untuk meraup keuntungan (profit) tapi jua benefit dan tentunya ridho Allah di atas segalanya.

    Sebenarnya produser itu tahu, bahwa hasil produksinya itu bernuansa prono. Cewek-cewek ditampilkan dengan pakaian minim. Dada dan daerah sekitarnya kelihatan. Dia tahu bahwa itu porno. Kalau tidak dada yang kelihatan, bagian bawah juga terlihat. Pakaian minim. Bila duduk di kursi, dia bingung cari tutup. Coba kalau pakaian agak panjang dan longgar, pasti dia tak akan bingung cari tutupnya, karena memang sudah tertutup rapi. Semestinya, baik produser maupun artis sama-sama menginginkan tampil dengan rapi dan sopan. Seni tidak harus berbau pornografi.

  2. Pratama Says:

    betul pak.

    Bentol di tengah sawah, betul tidak salah?

  3. suci hardiyanti Says:

    menurut saya benar apa yang bapak katakan.
    dalam kasus tersebut memang internal yang bermasalah, namun tidak dapat untuk dijadikan alasan pelegalan aksi mereka, karena bukan penyebab utama ataw tidak, namun itu adalah salah satu tindakan pornoaksi yang bisa mengakibatkan semakin rusaknya moral bangsa.
    Atas nama seni, maka pornographi dan pornoaksi dilegalkan…
    Atas nama seni pula orang yang telanjang diperjualbelikan
    Atas nama seni, moral digadaikan
    …………..

    Ya seni tidak mesti memamerkan sesuatu yang seharusnya disembunyikan. Kini, RUU Pornografi telah disahkan menjadi UU Pornografi. Moga, produser sinetron, iklan atau tayangan TV dan lain-lain, tidak mengaharuskan wanita yang dilibatkan dalam produksinya untuk pamer aurat. Produsen pakaian tidak lagi memproduksi baju-baju mini ala bikini. Kauam hawa tak lagi tertarik mengenakan baju-baju mini, sebagaimana yang kita lihat dalam segala situasi.

  4. yusuf al arief Says:

    you are absolutely correct, Sir.
    Art and whatever its name is only as a protector for the ‘artists’ to protect them when they want to show something banned in religion and law. By the name of human right, they are PROTECTED! Human right? yes, that what they say. We just wish that the government will realize the real ‘form’ of their ‘art’.

    Thanks for your comment. Before the artists perform their art work, they should control themselves in order their performance is in line with the morality of this nation.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: