QUO VADIS PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS?(diambil dari rahayusuciati.wordpress.com/)

Oleh Rahayu Suciati*

Konvesional. Seperti itulah pengajaran bahasa Inggris (BI) yang umumnya ditemui di sekolah-sekolah di negara kita. Pengajaran berfokus pada gramar dan penguasaan tata bahasa sudah berakar dalam sistem pengajaran BI di Indonesia. Saking menitikberatkan pada kemampuan gramar banyak elemen lebih praktikal tidak kebagian waktu untuk diajarkan. Akibatnya siswa yang sudah belajar BI sejak SMP, bahkan sejak SD, masih gagap berbicara BI. Masih untung jika sebatas gagap, yang parah ada lulus SMA yang tidak bisa memperkenalkan diri dalam BI.

Hal yang paling dilupakan dalam pengajaran bahasa Inggris di sekolah adalah penanaman konteks sosial dalam pengajaran materinya. Padahal BI itu tidak jauh dengan aplikasi bahasa Indonesia dimana faktor siapa yang berbicara, pada siapa ia berbicara, dimana dan kapan ia berbicara, memegang peranan penting. Seperti inti ajaran sosiolinguistik yang mengungkap keterkaitan yang tak bisa dipisahkan antara bahasa dengan konteks sosial dimana bahasa itu digunakan.

Dalam buku-buku teks di sekolah seringkali banyak ditemui ungkapan-ungkapan seperti ungkapan sapaan, simpati, permintaan, penawaran, permintaan maaf, dan lainnya. Sayangnya ungkapan-ungkapan tersebut hanya diajarkan sebatas pengucapannya tanpa disertai dengan pemahaman terhadap fungsi, konteks waktu, tempat dan situasi dimana ungkapan itu dapat digunakan dengan lebih tepat.

Ambil contoh saja dari ungkapan sapaan yang sering diajarkan seperti “Hello, how are you?”, “Good morning”, “What’s up?,”How are you doing?” dan juga ungkapan pembuka percakapan seperti “What a beautiful day, isn’t it?”. Para guru kebanyakan hanya mengajarkan pengucapannya berulang-ulang tanpa mengajarkan mana ungkapan yang kasual atau formal dan situasi yang tepat dalam penggunannya.

Hal ini bisa saja sepele, tapi kesalahpahaman yang mungkin timbul akibat pengetahuan yang sempit akan pemakaian ungkapan bahasa bisa jadi hal yang fatal jika para siswa berbicara dengan native speaker.
Seperti ketika ia berbicara dengan lawan bicara yang lebih tua menggunakan “what’s up?” atau ketika berbicara dengan seorang resepsionis hotel: “How’s it going?”. Tentu saja ungkapan kasual tersebut sangat tidak tepat untuk situasi tersebut. Hal inilah yang mungkin terjadi jika guru hanya menyuapi muridnya menghapal ungkapan tanpa aplikasi pemakaiannya.

Contoh lain yang lebih fatal terjadi karena kesalahpahaman pemakaian ungkapan dalam mengawali pembicaraan. Misalnya siswa diajari menggunakan ungkapan “What a beautiful day, isn’t it?” maka ia menggunakannya ketika berbicara dengan native speaker ketika bertemu di sebuah mall. Padahal ungkapan itu tidak tepat digunakan di ruang tertutup tanpa bisa melihat cuaca di luar.

Sekali lagi, kesalahpahaman ini terjadi tak lain karena kurangnya pemahaman terhadap konteks sosial dari ungkapan yang digunakan. Selain itu, hal yang seringkali luput untuk diajarkan para guru Bahasa Inggris adalah pengajaran kultur pemakaian bahasa Inggris oleh pembicara aslinya.

Budaya dari pemakai bahasa target sangat penting peranannya untuk diajarkan pada murid agar tidak terjadi salah pengertian tentang maksud dari ungkapan suatu bahasa. Selain itu pengajaran kultur dari bahasa target juga dapat menarik minat siswa dalam belajar yang selama ini dipangkas oleh pengajaran tata bahasa yang itu-itu saja.

Saya pribadi merasa amat nyaman ketika mempelajari bahasa dari segi budaya pemakainya ketika saya mengambil mata kuliah Cross Cultural Understanding. Apa yang diajarkan dalam mata kuliah tersebut dapat membuka mata saya bahwa belajar sebuah bahasa akan lebih mudah dicapai jika dibarengi dengan pengajaran dari budaya bahasa yang dipelajari.

Sayangnya, pengajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah yang cenderung konvesional jauh sekali dari apa yang namanya pengajaran kultural dari bahasa Inggris. Akibatnya, siswa-siswa sekolah sering membuat kesalahpahaman dalam memaknai sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris.

Ambil contoh saja, misalnya ungkapan “what time is it?” yang dicekoki kepada siswa sebagai ungkapan untuk menanyakan waktu. Padahal jika dikaitkan dengan unsur budaya, ungkapan ini punya makna yang lebih mendalam.

Bila dikaitkan dengan budaya orang Amerika yang disiplin dan menghargai waktu maka ungkapan ini bisa digunakan untuk memberi teguran kepada seseorang yang terlambat datang ke sekolah atau ke sebuah acara.
Siswa yang buta hal ini karena gurunya tak pernah memberikan pengetahuan kultur bisa salah persepsi jika ia datang terlambat ketempat kursus bahasa Inggris dan kemudian guru yang kebetulan native speker bertanya kepadanya “what time is it?” yang sebenarnya ditujukan sebagai teguran tapi dijawab dengan polosnya oleh si murid tadi dengan “It’s 2 o’clock, sir”.

Disini bisa dilihat bahwa pamahaman dan aplikasi siswa terhadap ungkapan bahasa Inggris sudah gatot alias gagal total! Masih banyak contoh lainnya yang bisa menunjukkan memperihatinkannya pengajaran bahasa Inggris dari segi kultur dan konteks sosial.

Sudah banyak pendapat para ahli dan masyarakat luas yang menyebutkan bahwa masalah rendahnya penguasaan bahasa Inggris siswa secara komunikatif dikarenakan pengajaran konvesional yang turun temurun digunakan. Kurikulum sudah silih berganti tapi pengajaran konvesional masih tetap dipertahankan oleh banyak pengajarnya.

Kesalahpahaman biasanya terjadi karena siswa terpengaruh bahasa Indonesia dalam pemakaian bahasa Inggris seperti pemakaian ungkapan “good night” yang hanya digunakan untuk ungkapan perpisahan banyak dipahami oleh siswa sebagai ungkapan sapaan “selamat malam” karena sapaan dalam bahasa Indonesia yang mengacu pada waktu digunakannya sapaan.

Kesalahan tersebut bisa terjadi juga disebabkan pengajaran ungkapan sapaan yang hanya diajarkan sebatas arti harfiahnya saja. Kesalahan tersebut jarang dibenahi sebab guru terlalu fokus pada pengajaran tensis dan kawan-kawannya. Ironisnya, kasalahan dibuat siswa hingga ia lulus sekolah. Lucu bukan!

Kultur orang barat yang sangat menjunjung nilai privasi juga menyebabkan beberapa hal bisa jadi tabu untuk ditanyakan. Seperti jumlah gaji, harga barang yang dibelinya, bahkan soal pekerjaan bisa saja menjadi hal yang bisa mengganggu bila ditanyakan oleh orang yang baru pertama bertemu.

Dan para guru kita pun sukses membekali muridnya dalam lubang kesesatan jika mereka mengajarkan ungkapan seperti “How much does your shoes cost?” or “what does your father do?” tanpa, sekali lagi, dibarengi dengan pengajaran kulturalnya.

Hal selanjutnya yang tak kalah dilupakan dalam pengajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah kita adalah pengajaran mengenai idiom dalam bahasa Inggris. Padahal idiom punya frekuensi muncul yang tinggi dalam teks-teks dan bacaan bahasa Inggris juga dalam percakapan sehari-hari. Kesalahpahaman yang fatal bisa timbul jika siswa tidak diajarkan mengenal idiom sejak dini.

Akibatnya siswa mengartikannya secara harfiah padahal makna idiom sendiri sangat jauh dengan makna harfiahnya. Pengajaran konvesional yang mengejar pemahaman tata bahasa menyebabkan siswa menjadi produk yang sarat dengan kesalahpahaman ketika ia berhadapan dengan idiom bahasa Inggris yang juga memuat unsur kultur.

Saya mengetahui mengenai idiom setelah duduk di bangku kuliah dan karena mayor saya yang memang pendidikan bahasa Inggris. Jika tidak, tak mustahil jika sampai nanti saya akan terus mengartikan “kick the bucket” sebagai “menendang ember” yang jauh dari makna sebenarnya yaitu “mati”.

Sudah saatnya bahasa Inggris berubah dan berbenah menuju pengajaran yang lebih memuat unsur kultur dan konteks sosial yang lebih praktikal. Sudahilah metode mengajar yang mubajir. Kenapa mubajir? Karena pengajaran tensis yang selalu diajarkan itu kebanyakannya terus diulang-ulang dari SMP hingga SMA. Apa yang sudah dipelajari seringkali diulang beberapa kali sehingga waktu yang seharusnya bisa dialihkan ke hal-hal yang lebih praktikal menjadi banyak tersita.

Mari tinggalkan pengajaran bahasa Inggris secara konvensional. Bisa dimulai dari anda, para calon guru dan juga yang sudah menyandang profesi guru.

Anda setuju? Semoga saja …

***Mahasiswa PSP Bahasa Inggris FKIP Unlam Banjarmasin

3 Responses to “QUO VADIS PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS?(diambil dari rahayusuciati.wordpress.com/)”

  1. Nila Adha Says:

    Excellent! Saya setuju banget. KEtika SEMPAT kuliah di UNLAM mata kuliah yang paling saya gilai adalah Cross Cultural Understanding dan Speaking.
    Belajar bahasa memang HARUS dibarengi dengan belajar tentang kebudayaannya juga.
    I love this article, kalo ditulis versi English saya mau copy dan kasihkan ke teman-teman lewat email.

    I think you can translate it by yourself.

  2. zulkarnaen jafar Says:

    Thank you for the reference about CCU…

  3. fm Says:

    you are welcome


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: